Pertanyaan menjengkelkan, tapi tak terelakkan adalah pertanyaan yang selalu sama dilontarkan oleh orang-orang kebanyakan dari kita: “Asal mana?”
Pertanyaan ini telah berlangsung puluhan tahun lalu dan masih terjadi hingga saat ini dan menimbulkan pertanyaan dihatiku, seolah-olah ada negara di Negara Indonesia ini. Pertanyaan ini jika aku jawab, akan memunculkan banyak pertanyaan berikutnya dan aku harus menjawab dengan menghabiskan waktuku percuma. Untuk mengatasi rasa risih dan menyingkat jawaban dapat aku simpulkan dengan jawaban: “Aku Orang Indonesia,”
Konyolnya, jawaban ini selalu saja dianggap bercanda. Sang penanya akan tertawa. Lalu melanjutkan pertanyaannya: “Maksudnya kelahiran mana?”
Aku tahu, bila aku jawab lagi, maka itu juga tidak akan menjawab hal yang ingin diketahui oleh sang penanya. Tidak akan memuaskan. Soal tempat kelahiran, bukankah pada masa sekarang, orang bisa dilahirkan di manapun yang berbeda dengan kota tempat tinggalnya, berbeda pula dengan asal dari bapak atau ibunya.
Tapi begitulah, hingga saat sekarang, pertanyaan yang sama selalu saja terlontar.
Kukira, riwayat hidupku belum terlalu ruwet. Kakek dari ibuku berasal dari Siborong-borong, pensiunan Polisi tahun 1977 di Rantau Perapat Sumatera Utara. Nenekku anak mantan Kepala Kehutanan di Siborong-borong. Ibuku dilahirkan di Rantau perapat, sempat kuliah di USU fakultas hukum cuma Sarjana Muda berhenti karena menikah dengan bapakku. Bapakku lahir di Lagu Boti, pernah kuliah di IPB Bogor masa itu tinggal dirumah saudara kakek almarhum Jenderal TNI T.B. Simatupang tidak selesai karena sakit. Dan melanjutkan kuliah di Universitas HKBP Nomensen Pematang Siantar Fakultas Sastra Inggris. Kakek dari bapakku berasal dari Lagu Boti tetapi sudah menetap di Rantau Perapat. Bapak-ibuku bertemu di Rantau Perapat, menikah dan menetap di Perkebunan Padang Halaban Estate karena bapakku bekerja disitu sebagai Kepala Laboratorium di Pabrik. Pernah juga bekerja sebagai KTU di PT. Torganda dan pernah jadi Kepala pelaksana lapangan CV. Indowick pembukaan lahan perkebunan di Torgamba. Sejak tahun 1990 tinggal di Cipondoh, Tangerang, Banten. Aku bersama 1 kakakku dan 2 adikku, lahir di Padang Halaban dan 1 adikku yang bungsu lahir di Rantau Perapat. Orang tuaku pindah ke jakarta aku tetap tinggal di tempat kakekku di Rantau Perapat karena semasa itu di Jakarta banyak terjadi perkelahian pelajar. Sampai tamat SMA aku tes Bintara Polisi di Sei Wampu - Sat Brimob Polda Sumut , lulus dan mengikuti pendidikan di SPN Padang Besi tamat ditempatkan di Sat Brimob Polda Sumbar.
Pertama berdinas di Kompi - C / 5274 Sat Brimob Polda Sumbar di Kodya Padang Panjang, kemudian melanjutkan pendidikan kejuruan Dasar Bintara Brimob di Pusdik Brimob Watukosek, Kec. Gempol, Kab. Pasuruan Jawa Timur dan tahun 2003 aku pindah dinas di Seksi Operasi Makosat Brimob Polda Sumbar di Kota Padang. Aku menikah tahun 2005 hingga punya anak tiga, tetap di Kota padang. Cukup jelas kali ya.....?
Kukira, riwayat hidupku lebih baik dibandingkan kebanyak orang-orang yang dilahirkan pada masa-masa dua puluh tahun terakhir. Ketika perkawinan sudah tidak lagi banyak mempertimbangkan adat / asal, maka hubungan perkawinan sudah melampaui lintas wilayah kedaerahan bahkan lintas negara. Generasi-generasi berikutnya juga demikian. Maka bisalah dibayangkan betapa susahnya orang-orang yang kakek-nenek buyutnya berbeda negara, demikian juga dengan kakek-nenek, dan kedua orangtuanya, lalu sang anak dilahirkan di negara yang berbeda pula.
“Asal usul dari mana?” Nah, loh…..
Wah mungkin kalo dijawab agak mbanyol : Asal dari Bapak dan Usul dari Ibu.........wkwkwkkwwk. Jelas, asal kita pastilah dari rahim sang ibu. Kebenaran ini tidak akan ada yang bisa menyangsikannya. Atau ada yang berbeda, lahir tiba-tiba dari sosok batu atau pepohonan seperti dongengan-dongengan? He.h.e.he.he. kukira ya, pasti tidak ya…
Pertanyaan yang muncul di benakku: kenapa ”asal darimana?” menjadi pertanyaan yang umum dilontarkan oleh orang-orang dari belahan manapun di Indonesia raya ini? Lantaran karena Indonesia kaya dengan beragam etnis dan suku bangsakah? Sehingga sebagai penghormatan akan ditanya ”asalnya” terlebih dahulu agar kita bisa segera membuka pembicaraan lainnya yang terkait dengan asal seseorang yang ditanya atau memudahkan kita memahami karakter dan kebiasaan orang tersebut agar kita bisa menerima dan memperlakukan dengan baik? Bisa jadi. Bisa pula tidak. Tapi yang aku yakini, bahwa pertanyaan tersebut tentulah bermakna baik bila dikaitkan dengan konteks pada jaman dimana orang-orang masih menempatkan diri pada ”asal”nya. Tapi ketika sekarang pembauran sudah tidak menjadi hal yang asing, pertanyaan tersebut bisa bersifat diskriminatif. Seakan tidak percaya bahwa kita sudah berbaur dan menjadi ”Indonesia”. Bisa pula melupakan bahwa ”BHINNEKA TUNGGAL IKA” menjadi semboyan negara kita.
Hm.. ngomong-ngomong, kamu sendiri ”Asal darimana?”
1 komentar:
:10...Hmmm....Love Indonesia
Posting Komentar