Cari Blog Ini

Minggu, 05 Agustus 2018

MENGELOLA MANUSIA

MENGELOLA MANUSIA

Eileen Rachman & Emilia Jakob

Semakin lama kita berkecimpung di dalam organisasi, semakin kita akan menyadari bahwa kebanyakan dari masalah-masalah yang dialami dalam organisasi sebagian besar bersumber dari manusia. Mulai dari kompetensi yang semakin dirasa tidak memenuhi spesifikasi masa kini, sampai kepada masalah konflik yang tidak terselesaikan. Banyak di antara kita bersikap pasif terhadap kenyataan ini, ataupun menunda untuk mencari solusinya, banyak dengan alasan bahwa ada hal hal lain yang lebih penting. Padahal sudah nyata nyata terbukti, bila manusia tidak digarap, tidak terjadi perbaikan. Ironisnya sangat sedikit pendidikan tentang manusia yang kita peroleh di bangku sekolah. Bahkan pendidikan tinggi psikologi, yang kesarjanaanya dapat dituntaskan dalam 4 tahun, belum menjamin lulusannya menjadi piawai menghadapi manusia. Sampai sekarang, manusia masih tetap merupakan misteri terbesar semesta ini. Tetapi, kenyataan ini tetap tidak membuat kita sadar bahwa kita sering taking for granted mengenai masalah pengelolaan manusia, dan bahkan menempatkan hal ini sebagai prioritas paling akhir di manajemen. Mungkin hal ini wajar, karena kita pikir tanpa perlu digerakkan, manusia yang mau bekerja, pasti tahu bahwa ia harus bekerja. Namun kita sering menyaksikan betapa misi dan visi pemimpin yang bagus, ternyata sering tidak bisa terwujud karena manajemen manusia yang terlantar. Dengan banyaknya realitas mengenai buruknya koordinasi, komunikasi dan kerjasama dalam tim, antarlembaga, antardepartemen, apakah kita masih mengira bahwa pengelolaan manusia ini memang suatu hal yang mudah? Pengelolaan manusia yang tampaknya common sense ini, memang tidak ada pendidikan formalnya. Namun, itu bukan berarti bahwa hal ini mudah digarap. Ada ahli yang mengatakan, ”Just because something is common sense doesn’t mean it’s commonly practiced”. Sekolah kepemimpinan manapun tidak bisa mendera kita untuk menjadi  piawai mengelola manusia. Memang buku-buku dan teori pengelolaan manusia sangat banyak. Namun, kita tentu kerap membuktikan, apa yang tertera di buku-buku sering tidak bisa dipraktikkan dengan efektif. Kita sering mengumpamakan seorang pemimpin ibarat konduktor orkestra yang seharusnya mengatur bekerja samanya beberapa departemen dengan sasarannya masing-masing menjadi suatu harmoni. Namun harmonisasi indah itu sering sulit menjadi kenyataan. Manajemen bisa diibaratkan sebagai orkestra yang selalu sedang menghadapi keribetan gladi resik di mana semua tetap harus dimonitor dan diperiksa. Konduktor manajemen lebih tepat disebut berperan sebagai montir yang membenahi masalah yang timbul.

Kita tidak pernah menjadi "expert" tentang manusia

Seorang psikolog, Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, menyatakan bahwa banyak sekali perkiraannya yang dibuat mengenai manusia berdasar penglihatan yang seringkali keliru dikarenakan kita terlalu cepat membuat kesimpulan meskipun sebenarnya kita juga sadar bahwa harus bersikap obyektif. First impression begitu mempengaruhi kita. Kita kemudian berusaha mencari referensi yang ada di benak kita, menggunakan kerangka berfikir yang ada, untuk mengkonfirmasinya. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai manusia kita, tanpa disadari sering tidak berkembang. Pemahaman dan penilaian yang salah bisa membawa kita pada strategi pengembangan yang salah. Kita perlu memiliki pola pikir bahwa manusia yang dikelola ini adalah organisme hidup yang bergerak terus, berkomunikasi, bersatu , berpisah dan bisa bersatu lagi. “We recruited these people, we trained them, we managed them. If our people aren’t good enough, it’s not their fault, it’s our fault.” Apakah hal ini juga berlaku untuk orang orang berkaliber tinggi, sampai ke menteri di pemerintahan? Mengkoordinasi kabinet berarti menyelami dan berkomunikasi mendalam dengan salah satu, atau dua, bahkan keseluruhan tim untuk menyamakan visi. Ini perlu terjadi setiap hari. Bukankah kita tidak bisa berkerja sama dengan orang yang tetiba menjadi asing dan tidak kita kenal lagi setelah kurun waktu tertentu?

Jangan lupa tetap "employee-centric”

Mudah mudahan sekarang kita semakin meyakini bahwa manajemen itu tidak semudah teorinya. Manusia yang dikoordinasi tidak selamanya pekerja keras, bersikap keren dan bertalenta luar biasa. Ada yang pintar tetapi keras kepala. Ada yang pandai bekerjasama tetapi tidak cemerlang. Ada yang agresif namun tidak produktif  dan mereka semua tercampur baur dalam organisasi kita. Kita harus menerima kenyataan bahwa pengelolaan manusia memang sangat rumit. Semua masalah manusia perlu kita sikapi sebagai teka teki yang harus kita tuntaskan. Konflik tidak bisa diredam ataupun dilawan. Kita perlu menganggap bahwa konflik adalah bahan pengaduk tim yang paling ampuh. Conflict is the currency of management. Dari konflik, kita bisa belajar tentang persepsi masing-masing anggota tim kita. Dari kompromi penyelesaian konflik kita juga bisa melanjutkan kerja sama dengan resolusi yang lebih konstruktif. Jadi, kepemimpinan memang adalah kepandaian mengelola intrik, konflik, dan mendapatkan wawasan yang lebih holistik tentang manusia,  lalu mencari solusi yang lebih efektif.

Dimuat dalam KOMPAS, 4 Juli 2015

Selasa, 03 Juli 2018

Negara yang mengatur Agama, bukan Agama yang mengatur Negara

Agama secara harfiah, A diartikan Tidak dan Gama diartikan Kacau Balau. Harapannya orang yang beragama hidupnya tidak kacau balau, aman, nyaman dan sentosa. Bukan dengan beragama malah menimbulkan sengketa, kekacauan dan peperangan.

Penulis mengartikan Agama adalah Hubungan yang sangat terlalu pribadi antara satu orang manusia dengan penciptanya. Karena yang tahu amal perbuatan itu sendiri hanya pribadi masing-masing perorangan, dan dalam setiap agama itu sendiri sudah dijelaskan yang tahu dan yang menilai benar atau tidak seseorang itu sesuai ajaran masing-masing adalah setelah dia meninggal atau diakhirat.

Indonesia adalah sebuah Negara yang berdaulat, dan sudah menentukan Dasar Negara itu Pancasila dan menjadi Landasan Moral Bangsa. Sudah selayaknya, sewajarnya, sepatutnya Agama-agama yang ada diakui Di Indonesia menyesuaikan dengan Pancasila. Etika dan Empati maka Toleransi berjalan.

Tidak ada yang merasa paling benar, paling besar, dan paling pintar. Negara yang mengatur Agama dan bukan Agama yang mengatur Negara.

Jika belajar dari Sejarah Indonesia, yang mengenal ada tulisan dimulai dari Kerajaan Kutai Martadipura  dan seterusnya dan disitu dengan dengan ajaran Agama Hindu dan seterusnya muncul agama-agama berikutnya. Kita ilustrasikan sebuah Rumah tangga ada tamu datang kerumah kita, mungkin itu akan membawa suasana baru tapi tidak merubah aturan dirumah tangga tersebut. Tamu menyesuaikan pemilik rumah, bukan mau menguasai yang punya rumah.

Jika mau membahas kedalam privasi kebenaran Agama itu sendiri; Agama diibaratkan, “ Orang buta didepan seekor Gajah “. Kita ilustrasikan Agama di Indonesia ada 5 (Islam, Protestan/Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu) dengan sebutan abjad si A, B, C, D dan E . Kelima abjad ini diumpamakan adalah nama Agama dan semuanya adalah orang buta. Kenapa buta? Karena tidak satu manusiapun didunia ini pernah melihat Tuhan. Semua hanya bisa meyakini dalam pikiran dan perasaan Tuhan itu ada, apa bedanya dengan orang buta ?

Semua Agama mengakui ada satu Tuhan, Esa Yang Tiada Duanya. Kita umpamakan 5 Agama ini adalah 5 orang buta didepan seekor Gajah. Dan kelima orang buta ini diberi satu pertanyaan, “ Hai orang buta, Gajah itu seperti apa?
Si A menjawab: Gajah seperti TIANG, karena dia raba dan pegang kakinya.
Si B menjawab: Gajah seperti BATU BESAR, karena dia raba dan pegang badannya.
Si C menjawab: Gajah seperti SELANG, karena dia raba dan pegang belalainya.
Si D menjawab: Gajah seperti KUALI, karena dia raba dan pegang kupingnya.
Si E menjawab: Gajah seperti TALI, karena dia raba dan pegang ekornya.

Semua orang buta adalah benar, karena itu yang dia raba dan pegang, padahal secara fakta Gajah itu satu ekor bukan lima ekor.
Apabila orang buta yang malas dan bodoh dia hanya diam ditempat dan tetap ngotot membenarkan apa yang dia raba dan pegang serta siap bertarung mempertahankan pendapatnyanya bahwa dialah yang paling benar.

Orang buta yang cerdas dia tidak mau berdebat dan berpikir dengan cerdas, dan muncul pertanyaan dihati dan pikirannya seyogyanya Gajah itu satu ekor tetapi kenapa berbeda-beda pendapatnya, dia coba bergerak dan meraba, ternyata dia temukan semua bagian-bagian yang diucapkan rekan-rekan lainnya.

Tunduklah sama Negaramu, dimana kamu hidup dan berdamailah dengan Negaramu, aman, nyaman sentosa maka sejahteralah sampai ke anak cucumu.

Indonesia itu ibarat gadis perawan cantik, yang diidam-idamkan banyak pemuda. Jangan biarkan faham negara luar merusak rumah tangga kita Indonesia.

Negara yang mengatur Agama, bukan Agama yang mengatur Negara.

Sabtu, 16 Juni 2018

Berjuanglah untuk tetap hidup

Allah tidak pernah menjanjikan bahwa;
LANGIT akan selalu BIRU,
BUNGA akan selalu MEKAR, dan
MENTARI selalu BERSINAR,

Tapi ketahuilah bahwa DIA  akan selalu memberi;
PELANGI di setiap BADAI,
SENYUM di setiap AIR MATA, 
HIKMAH di setiap COBAAN, dan
JAWABAN di setiap DOA.

" HIDUP bukanlah TUJUAN, melainkan PERJALANAN ".

Satu hal kita BAHAGIA adalah '' KASIH SAYANG '',
Satu hal kita DEWASA adalah '' MASALAH '',
Satu hal kita HANCUR adalah " PUTUS ASA ",
Satu hal buat kita MAJU adalah " USAHA ", dan
Satu hal kita TEGAR adalah " DOA ".

Hidup ini terlalu indah

KETIKA....Aku ingin hidup KAYA ,aku lupa bahwa HIDUP adalah sebuah KEKAYAAN.
KETIKA....Aku takut MEMBERI, aku lupa bahwa semua yang aku miliki adalah PEMBERIAN.
KETIKA aku ingin jadi yang TERKUAT,aku lupa bahwa dalam KELEMAHAN, kuasaNYA memberikan aku KEKUATAN
Ketika aku takut RUGI,aku lupa bahwa Hidupku adalah sebuah KEBERUNTUNGAN karena AnugerahNYA
Ternyata hidup ini sangat indah, jika kita tahu bersyukur kepadaNYA...

Selasa, 12 Juni 2018

Orang Yang Sudah Mencapai Kesadaran Supra


Orang yang sudah mencapai kesadaran supra akan mengembangkan kemampuan membeda-bedakan yang benar, yaitu berupa suatu kemampuan untuk mengatasi ilusi kehidupan, dan

mengenali yang kekal, yang telah mendasari semua jenis benda yang berubah-ubah bentuknya. Dengan pikiran yang merasuk ke dalam Kenyataan dan kebenaran sejati, serta mengetahui bahwa semua yang ada ini pada saatnya akan musnah, mati.

Demikianlah ia mengatasi kekhawatirannya terhadap kehidupan yang penuh duka, kehilangan dan kematian.

Senin, 14 Mei 2018

Yang penting BAIK saja dulu, jika dibalas JAHAT itu urusan dia sama TUHAN.

Semua sudah terjadi...
Jika kamu Marah...Benci...Dendam, bukankah kamu selevel juga dengan mereka yang menganiayamu? Karena ada sisi lain yang tidak terjangkau akal pikiran manusia, maka pada sisi itu kita hanya bisa berserah. Pada sisi itu kita dapat bergumam dihati, " Masih Ada Tuhan ".

Semua sudah terjadi, harus terjadi, dan faktanya telah terjadi. Pada waktu itu seperti sepi, tidak ada yang bisa menghentikan. Hanya ada cerita, dan ucapan syukur bagi mereka yang merasa beruntung, mengucapkannya dari sisi mana mereka menilai keberuntungannya serta keberpihakannya.

Semakin kita marah dan emosi, itulah yang mereka inginkan, yang sebenarnya kita marah pada situasi tanpa bisa berbuat apa-apa dan kita lupa waspada, yang akhirnya kita mati sendiri stroke karena memikirkan yang tidak terjangkau pikiran kita, paranoid terpenjara ketakutan dan mereka semakin leluasa. Situasi aman dan nyaman atau tidak itu hanya ada dalam hati dan pikiran kita.

Saat ini kita kembali ke jati diri masing-masing, bertanya dihati dalam penuh kesadaran menggunakan kaca mata kemanusiaan. Benarkah ada Tuhan dihatiku, dihatimu, dihatinya, dihati mereka dan dihati kita...? Mari bersama kita berpikir, bersikap, berbuat, berjaga bagaimana agar semua itu tidak terulang kembali.

Teroris itu benar menurut kaca mata mereka, kita benar menurut kaca mata kita, Jangan menghujat kepada mereka yang telah melakukan perbuatan jahat menurut kita, karena kadang kita lupa bahwa kita pernah berbuat jahat tanpa kita sadari kita marah, benci dan memaki, dan pastinya ada rasa ingin membalas jika tahu siapa pelakunya berarti kita juga sama dengan mereka.

Jika kita mengenal Tuhan dengan baik, mari kita terima semua dengan ikhlas dan mendoakan semoga pelaku hatinya disentuh oleh Tuhan, karena kita yakin: " Masih Ada Tuhan". Hukuman yang berat faktanya tidak serta merta merubah sifat watak prilaku manusia.

Kami menghimbau kepada segenap kita yang masih dapat bersyukur bisa hidup dan bernafas dengan label Bangsa Indonesia, mari peduli, Laporkan kepada Polisi setiap sesuatu yang terlihat tidak seperti biasanya, atau terasa lain dihati. Karena sesungguhnya jika kita benar dapat berucap, "Masih Ada Tuhan", pastilah kita diberi firasat tentang sesuatu hal yang tidak lazim dan tidak seperti biasanya.

Jangan menjadi paranoid, tetapi waspada. Jangan menuduh tetapi tetap mengamati, Jangan main hakim sendiri tetapi jadilah intelek dan bonafide bahwa Polisi bisa mengatasi. Jangan menshare sesuatu yang tidak kita fahami maksud dan tujuannya. Lebih baik mendengar, mengamati dan menjaga diri agar tidak menjadi barang contoh korban berikutnya.

Laporkan setiap sesuatu rasa yang tidak biasa tanpa harus menuduh dan menghakimi. Sudah ada yang diberi kewenangan tinggal anda mendukung, membantu menginformasikan kepada Polisi agar tercipta rasa nyaman dan tidak tercurah air mata, tanpa penyesalan yang selalu datang terlambat serta memilukan.

Jangan marah pada situasi, tapi mari kita bantu memberi informasi dan mendoakan Bapak-bapak Polisi agar selalu sehat dan dapat selalu bekerja pada jalur dan lajur sebenarnya. Karena tidak bisa kita pungkiri karena Polisi juga ada sisi manusiawi yang pasti ada batas, dan batasan itulah kita bantu doa, sehingga mereka kuat.

Mungkin ada yang berfikir semua ini bukan satu-satunya solusi, paling tidak telah dapat meminimalisir. Karena api hanya bisa padam dengan air. Benturan benda tanpa bunyi dipermukaan busa. Itu namanya KASIH ( Kasih, Sukacita, Damai sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, Penguasaan diri ).

Berusahalah tenang agar kamu dapat berdoa.

==================================
Turut Berdukacita kami ucapkan kepada keluarga-keluarga korban Bom dan serangan yang tertuduh dilakukan Teroris, Semoga Tuhan memberi penghiburan, kekuatan, dan kami yakin masih ada Tuhan yang pasti memberi jawaban kelegaan.

Minggu, 01 April 2018

DITEMPAT TINGGI MELIHAT KERENDAHAN, DAN DIKERENDAHAN MELIHAT TEMPAT TINGGI.

Jika kau menyadari bahwa kau telah berada ditempat tinggi, itu karena kau pernah berada ditempat rendah.

Semakin tinggi tempat yang ingin kau capai, semakin dalam fondasi yang dibutuhkan untuk menopangnya. Pastikan dan yakinkan diri bahwa fondasimu sudah sesuai hitungan akurat, wajar dan logika. Agar tempat tinggi yang kau inginkan dapat nyaman dari terpaan angin badai, dan turunlah kembali sesuai jadwalnya, agar kau tidak jenuh disana, atau orang yang ada dibawah jenuh menunggumu diatas, atau memang tempat tinggimu sudah waktunya harus roboh untuk dibangun baru lagi atau memang momentum alam yang akan merobohkanmu pada masa dan waktunya.

" Semakin tinggi suatu tempat, semakin kencang hembusan angin menerpanya. Semakin lama berada disuatu tempat, semakin tinggi tingkat jenuh dan semakin banyak kesalahan yang dirasakan ".

Karena dekat maka bersinggungan.
Jauh terasa harum semerbak dan merindu.
Dekat terasa bau bunga bangkai, dan membosankan.