Agama secara harfiah, A diartikan Tidak dan Gama diartikan Kacau Balau. Harapannya orang yang beragama hidupnya tidak kacau balau, aman, nyaman dan sentosa. Bukan dengan beragama malah menimbulkan sengketa, kekacauan dan peperangan.
Penulis mengartikan Agama adalah Hubungan yang sangat terlalu pribadi antara satu orang manusia dengan penciptanya. Karena yang tahu amal perbuatan itu sendiri hanya pribadi masing-masing perorangan, dan dalam setiap agama itu sendiri sudah dijelaskan yang tahu dan yang menilai benar atau tidak seseorang itu sesuai ajaran masing-masing adalah setelah dia meninggal atau diakhirat.
Indonesia adalah sebuah Negara yang berdaulat, dan sudah menentukan Dasar Negara itu Pancasila dan menjadi Landasan Moral Bangsa. Sudah selayaknya, sewajarnya, sepatutnya Agama-agama yang ada diakui Di Indonesia menyesuaikan dengan Pancasila. Etika dan Empati maka Toleransi berjalan.
Tidak ada yang merasa paling benar, paling besar, dan paling pintar. Negara yang mengatur Agama dan bukan Agama yang mengatur Negara.
Jika belajar dari Sejarah Indonesia, yang mengenal ada tulisan dimulai dari Kerajaan Kutai Martadipura dan seterusnya dan disitu dengan dengan ajaran Agama Hindu dan seterusnya muncul agama-agama berikutnya. Kita ilustrasikan sebuah Rumah tangga ada tamu datang kerumah kita, mungkin itu akan membawa suasana baru tapi tidak merubah aturan dirumah tangga tersebut. Tamu menyesuaikan pemilik rumah, bukan mau menguasai yang punya rumah.
Jika mau membahas kedalam privasi kebenaran Agama itu sendiri; Agama diibaratkan, “ Orang buta didepan seekor Gajah “. Kita ilustrasikan Agama di Indonesia ada 5 (Islam, Protestan/Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu) dengan sebutan abjad si A, B, C, D dan E . Kelima abjad ini diumpamakan adalah nama Agama dan semuanya adalah orang buta. Kenapa buta? Karena tidak satu manusiapun didunia ini pernah melihat Tuhan. Semua hanya bisa meyakini dalam pikiran dan perasaan Tuhan itu ada, apa bedanya dengan orang buta ?
Semua Agama mengakui ada satu Tuhan, Esa Yang Tiada Duanya. Kita umpamakan 5 Agama ini adalah 5 orang buta didepan seekor Gajah. Dan kelima orang buta ini diberi satu pertanyaan, “ Hai orang buta, Gajah itu seperti apa? “
Si A menjawab: Gajah seperti TIANG, karena dia raba dan pegang kakinya.
Si B menjawab: Gajah seperti BATU BESAR, karena dia raba dan pegang badannya.
Si C menjawab: Gajah seperti SELANG, karena dia raba dan pegang belalainya.
Si D menjawab: Gajah seperti KUALI, karena dia raba dan pegang kupingnya.
Si E menjawab: Gajah seperti TALI, karena dia raba dan pegang ekornya.
Semua orang buta adalah benar, karena itu yang dia raba dan pegang, padahal secara fakta Gajah itu satu ekor bukan lima ekor.
Apabila orang buta yang malas dan bodoh dia hanya diam ditempat dan tetap ngotot membenarkan apa yang dia raba dan pegang serta siap bertarung mempertahankan pendapatnyanya bahwa dialah yang paling benar.
Orang buta yang cerdas dia tidak mau berdebat dan berpikir dengan cerdas, dan muncul pertanyaan dihati dan pikirannya seyogyanya Gajah itu satu ekor tetapi kenapa berbeda-beda pendapatnya, dia coba bergerak dan meraba, ternyata dia temukan semua bagian-bagian yang diucapkan rekan-rekan lainnya.
Tunduklah sama Negaramu, dimana kamu hidup dan berdamailah dengan Negaramu, aman, nyaman sentosa maka sejahteralah sampai ke anak cucumu.
Indonesia itu ibarat gadis perawan cantik, yang diidam-idamkan banyak pemuda. Jangan biarkan faham negara luar merusak rumah tangga kita Indonesia.
“ Negara yang mengatur Agama, bukan Agama yang mengatur Negara. “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar